Sejarah

Kisah Cinta PMI dan Kemerdekaan Indonesia

Bung Tomo dengan teriakannya di corong mikropon RRI Surabaya membakar semangat para pejuang saat berperang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. “Merdeka! Merdeka! Allahu Akbar!” pekikan Bung Tomo. Kemudian disambut dengan pekikan yang sama oleh para pejuang dengan menghunus bambu runcing dan senjata api rampasan.

Pada waktu bersamaan para pejuang di garis belakang yaitu para Pemuda Palang Merah (PMP), terus bekerja menolong para pejuang yang luka dan mengevakuasi ke pos-pos pertolongan melalui pasukan “mobile collone” yang dibentuk oleh Palang Merah Indonesia (PMI). Para PMP yang bekerja tidak hanya berasal dari Surabaya, namun datang juga dari wilayah sekitarnya, yaitu dari Malang dan Batu. Salah seorang dari Relawan PMI yang berangkat ditugaskan oleh PMI Cabang Malang adalah bernama Sulistina, seorang perempuan palang merah kelahiran Malang 25 Oktober 1925.

Sulistina bertemu dengan Bung Tomo disela-sela perjuangan kemerdekaan Indonesia. “Sekeras-kerasnya laki-laki seperti Bung Tomo, sebagaimana manusia normal, pasti mempunyai perasaan jatuh cinta, cemburu dan ingin diperhatikan” Ujar seorang teman Bung Tomo seperti yang ditulis pada buku “Bung Tomo, Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November” karya Abdul Waid (2019). Keduanya memiliki dunia yang bersinggungan yakni sama-sama sebagai aktivis yang bergerak untuk kepentingan dan kesejahteraan orang banyak. Namun perbedaan antara keduanya tetap ada, Bung Tomo lebih mengarah pada perjuangan kemerdekaan Indonesia, sedangkan pujaan hatinya lebih mengarah pada kepentingan sosial.

Setelah berkenalan, Sulistina memanggil Bung Tomo dengan panggilan “Mas Tomo”. Walau Sulistina melihat sikap Bung Tomo yang tegas, Ia tetap menemukan sisi romantisme dari pria tersebut. Perjuangan Bung Tomo semakin bersemangat setelah mereka menjadi sepasang kekasih. Cintanya pada Sulistina menjadi obor yang membara untuk berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. “Inilah sebuah roman perjuangan!” Ujar Bung Tomo.

Pernikahan Bung Tomo dan Sulistina berlangsung di Malang pada 19 Juni 1947. Pemuda Palang Merah Surabaya dan Malang berkumpul menghadiri pernikahan antara pejuang kemerdekaan dan pejuang kemanusiaan. PMI adalah bagian dari perjuangan bangsa dan negara Indonesia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button