Mengenang Peristiwa G30S/PKI, Berikut Profil Singkat Pahlawan Revolusi Indonesia

NAGATANEWS– 58 tahun lalu, tepatnya 30 September 1965, terjadi peristiwa yang dikenal dengan nama Gerakan 30 September PKI ( G30S/PKI). Hari ini dicatat sebagai tragedi G30S/PKI yang disebut-sebut salah satu sejarah kelam bangsa Indonesia.
Kala itu, di tengah situasi politik yang sedang tidak stabil, Indonesia dihadapkan dengan sebuah pemberontakan yang bertujuan untuk mengubah ideologi bangsa Indonesia.
Dalam peristiwa yang berlangsung selama dua hari dari tanggal 30 September sampai 1 Oktober 1965 tersebut, pemberontakan telah memakan korban petinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) dan beberapa korban lainnya. Para tokoh yang gugur dalam pemberontakan G30S/PKI itu kemudian diberikan gelar kehormatan Pahlawan Revolusi Indonesia.
Pahlawan Revolusi adalah salah satu bentuk gelar kehormatan yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia kepada tokoh yang berjasa bagi bangsa Indonesia.
Untuk mengenang para pahlawan tersebut, pada kesempatan kali ini kita akan melihat biografi singkat dari para Pahlawan Revolusi.
1. Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani
Seorang petinggi TNI AD di masa Orde Lama. Lahir pada 19 Juni 1922 di Jenar, Purworejo. Di bidang militer, Ahmad Yani turut dalam banyak penumpasan pemberontakan termasuk G30S/PKI. Ahmad Yani tewas dalam tragedi G30S/PKI pada 1 Oktober 1965.
2. Letjen (Anumerta) Suprapto
Lahir di Purwokerto pada 20 Juni 1920. Suprapto aktif dalam bidang militer dan turut dalam beberapa pertempuran. Dalam pemberontakan G30S/PKI, ia pun menjadi korban tewas bersama para petinggi TNI AD lainnya.
3. Letjen (Anumerta) S. Parman
Siswondo Parman atau dikenal S. Parman adalah salah satu petinggi TNI AD di masa Orde Lama. Lahir pada 4 Agustus 1918 di Wonosobo, Jawa Tengah. S. Parman yang amat berpengalaman di bidang intelijen pun mengetahui rencana-rencana pemberontakan PKI. Namun, ia diculik bersama para jenderal lainnya dan harus gugur dalam peristiwa G30S/PKI.
4. Letjen (Anumerta) M.T. Haryono
Mas Tirtodarmo Haryono atau dikenal M. T. Haryono lahir pada 20 Januari 1924 di Surabaya, Jawa Timur. Karirnya di bidang militer amatlah gemilang. Ia juga piawai dalam berbahasa Belanda, Inggris, dan Jerman berguna bagi Indonesia dalam perundingan internasional. Pada 1965 dalam tragedi G30S/PKI, sayangnya M. T. Haryono harus gugur.
5. Mayjen (Anumerta) D. I. Panjaitan
Donald Ignatius Panjaitan atau D. I. Panjaitan lahir pada 9 Juni 1925 di Balige, Tapanuli. Ia memiliki karir cemerlang di bidang militer. Menjelang akhir hayatnya, ia diangkat sebagai Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat dan mendapat tugas belajar ke Amerika Serikat. Ia pun tewas dalam pemberontakan PKI 1965.
6. Mayjen (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo
Sutoyo Siswomiharjo lahir 28 Agustus 1922 di Kebumen, Jawa Tengah. Karirnya di bidang militer terus melesat. Tahun 1961, ia diberi tugas sebagai Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat. Akan tetapi, Sutoyo yang menentang pembentukan angkatan kelima oleh PKI pun harus ikut gugur dalam peristiwa G30S/PKI.
7. Brigjen (Anumerta) Katamso
Katamso dilahirkan pada 5 Februari 1923 di Sragen, Jawa Tengah. Ia terus berkiprah bersama militer Indonesia. Tahun 1958, Katamso dikirim ke Sumatera Barat untuk menumpas pemberontakan PRRl sebagai Komandan Batalion A Komando Operasi 17 Agustus. Setelah itu menjadi Kepala Staf Resimen Tim Pertempuran (RIP) II Diponegoro di Bukittinggi. Katamso juga menjadi korban tragedi G30S/PKI.
8. Kapten (Anumerta) Pierre Tendean
Piere Tendean lahir 21 Februari 1939 di Jakarta. Pada April 1965, ia diangkat sebagai ajudan Jenderal Nasution. Ketika bertugas, ia tertangkap oleh kelompok G30S dan mengaku sebagai A. H. Nasution di mana sang jenderal berhasil melarikan diri. Namun, dirinya harus mengorbankan nyawa untuk melindungi Sang Jenderal.
9. A.I.P. II (Anumerta) K. S. Tubun
Karel Satsuit Tubun dilahirkan di Tual. Maluku Tenggara pada 14 Oktober 1928. Ketika pemberontakan G30S,K. S. Tubun waktu itu sedang bertugas sebagai pengawal di kediaman Dr. Y. Leimena yang berdampingan dengan rumah Jenderal Nasution. Satsuit Tubun melawan dan terjadi pergulatan. Akhirnya ia ditembak hingga gugur.
10. Kolonel (Anumerta) Sugiyono
Sugiyono lahir pada 12 Agustus 1926 di Desa Gendaran, daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Pada 1 Oktober 1965, Sugiyono yang baru kembali dari Pekalongan ditangkap di Markas Korem 072 yang telah dikuasai gerombolan PKI. la dibunuh dan jenazahnya ditemukan pada 22 Oktober 1965.
—
Jadi, itulah tadi beberapa Pahlawan Revolusi yang gugur demi melindungi ideologi negara Indonesia.(*)




